Follow us on:

Aksi Para PSK di Perahu Goyang Rawa Malang

Santa Cruz (Jakarta) - Sudah hampir setengah malam di malam minggu, saat motor butut dikebut memasuki kawasan pemukiman di wilayah Cilincing, Jakarta Utara dengan melewati berbagai portal dan memasuki jalanan sempit, menuju sebuah kawasan penuh empang di pinggiran kota Jakarta itu.


Setelah melewati deretan rumah kayu dan tembok bercat milik para pengumpul barang-barang rongsokan dan menyusuri jalanan di pemukiman penduduk yang sepi. Malam pun makin pekat dan sunyi. Hanya suara kodok dan jangkrik bernyanyi riang menyambut gerimis. 

Kemudian, barulah tampak deretan rumah-rumah di areal bekas rawa. Seorang petugas keamanan berpakaian hansip menghampiri saya. "Mau kemana mas," tanya petugas itu, sepertinya tahu yang dimaksud. Untuk pendalaman berita dan keakuratan investigasi, gerimis yang turun pun tidak dihiraukan, kami pun nekat menyusuri gang sempit yang mengapit antara sejumlah perumahan yang dijadikan warung, toko klontong dengan areal pemakaman baru di Rawa Malang, Cilincing, Jakarta Utara.

Pandangan kontras sangat terlihat dengan areal pemakaman yang sepi, dibandingkan dengan kawasan berpenghuni pemburu lendir. Terdengar suara-suara dentuman dan alunan berbagai macam jenis musik dan lagu saling sahut menyahut. Mulai dari Dangdut, House Music hingga suara orang sedang berkaraoke, semua saling adu kencang dan bising. 

Di kiri kanan gang itu terdapat sejumlah bangunan rumah permanen sederhana, berwarna-warni catnya, ditambah berbagai macam lampu kelap-kelip. Memang jauh dari kesan sebuah diskotik atau bar besar di Jakarta. Dengan mata sayu, terlihat sejumlah perempuan muda yang berada di sepanjang gang itu menarik-narik ketiga pemuda. 


Namun, mereka itu masih terus berjalan sambil memasang senyuman agar para perempuan itu tidak terlalu memaksa menarik ke dalam rumah-rumah bordilñya. Masyarakat sekitar, menyebutnya Lokalisasi Rawa Malang, pengganti Lokasisasi Kramat Tunggak, Koja, Jakarta Utara, yang pada tahun 1999 ditutup Pemprov DKI Jakarta yang kala itu dipimpin oleh Gubernur Sutiyoso.

Kawasan ini cukup meriah. Di sejumlah rumah terdapat sejumlah pria yang sedang berjoget, minum bir atau sekedar duduk ditemani sejumlah perempuan muda sambil tertawa. Namun, banyak juga rumah-rumah ini yang tidak ada tamunya. Para perempuan pun harus berebut atau mencolek dan menggoda para pria yang datang ke lokasi itu.

Berbagai cara dan gaya mereka lakukan untuk menggoda, mulai yang berdandan sederhana hingga pakaian seksi. Mulai sekedar mencolek, menyenggol atau menarik paksa pria yang lewat. Tentunya, pria yang diperlakukan itu tidak marah, hanya tersenyum saja. "Ayo dong mas masuk sini. Mau ditemenin saya? Mari masuk sini," begitu celotehan mereka. Kalau menolak mereka hanya berkata, "Ya si Abang payah, ayo kita servis, kita oke-oke loh," rayunya genit.

Begitulah kehidupan para perempuan muda dari berbagai daerah ini mencari nafkah sebagai Pekerja Seks Komersil (PSK) di Rawa Malang. "Dulunya ini rawa. Di depan ini sebagian sudah diuruk pemerintah untuk pemakaman (TPU) baru di sini. Di seberang sana, kebanyakan dihuni rumah para bos-bos pemulung dari Indramayu," ujar seorang petugas keamanan di kawasan itu. Tapi, tidak semua para penghuni lokalisasi di Rawa Malang merupakan pindahan dari Kramat Tunggak. "Saya tidak pernah buka pindahan dari Kramat Tunggak. Saya tidak pernah buka di sana. Tapi saya sudah lama buka di Rawa Malang ini," ujar, seorang mucikari yang mengaku bernama Abas (Nama Samaran) di sebuah rumah bordil. 

Dengan bangganya Abas mengaku, memiliki 10 orang PSK asal Indramayu, Sukabumi dan Cirebon. Ia juga mengaku selama rumah bordilnya beroperasi belum pernah ada razia yang dilakukan aparat. Karena kawasan ini terkenal dijaga para jawara atau preman. "Aman mas. Selama saya berada di sini, nggak pernah ada razia," ujarnya sambil memperomosikan anak buahnya yang baru, perempuan cantik asal Sukabumi. "Silakan masuk kalau mau lihat-lihat," goda pria kemayu ini. Dengan menyebutkan tarif para PSK-nya untuk melakukan check in sebesar Rp. 150.000. "Itu sudah termasuk kamarnya. Ya terserah kalau mau menambahkan tip ke mereka itu," imbuhnya seraya mengatakan Lokalisasi Rawa Malang buka selama 24 jam, pagi, siang dan malam.

Menurut sejumlah sumber di kawasan Rawa Malang, tarif check in memang bervariasi, mulai dari Rp. 100.000 sampai Rp. 300.000 per jam. "Tapi kalau Abang mau coba, ada yang namanya 'Perahu Goyang'," ujar Ganda yang mengaku sebagai tamu Rawa Malang yang sering berlangganan. Kenapa dinamai Perahu Goyang, karena kedua insan itu bercinta di atas sebuah perahu kayu yang berada di atas Kali Rawa Malang itu. "Pokoknya, fantastis deh, Bang. Mau coba? 


Ceweknya bisa dinego di sini, tinggal cari dan pilih aja," ujarnya membujuk sambil tertawa terbahak-bahak karena mabuk minuman anggur. Lokalisasi ini memang sulit terlihat dan tidak mencolok, karena jauh dari Jalan Raya Cacing (Cakung-Cilincing). Belum lagi, terhalang perumahan penduduk, rawa, empang, dan pemakaman. Untuk kawasan esek-esek, memang di sinilah satu-satunya tempat yang paling aman. 

Bahkan para jawara juga memberikan jaminan keamanan bagi para tamu. "Aman mas, saya sudah berada di sini tiga tahun, nggak pernah ada apa-apa kok. Yah, paling orang berantem. Kok tanya-tanya melulu, mau ditemenin nggak, mau chek in engga?" Ucapnya sambil memaksa. Sejumlah sumber juga mengatakan, setelah Lokalisasi Kramat Tunggak ditutup, tinggal Rawa Malang tersisa untuk Jakarta Utara. Sementara, kafe, bar atau diskotik banyak pindah ke kawasan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Kramat Tunggak kini sudah berubah menjadi kawasan Jakarta Islamic Center. 

Padahal dulunya, kawasan ini sangat terkenal bagi para lelaki hidung belang di seantero Indonesia. Menyusul kawasan saingannya di Saritem Bandung (Jawa Barat), Pasar Kembang (Sarkem) Yogyakarta, Taman KB atau Sunan Kuning Semarang (Jawa Tengah), atau Dolly Surabaya (Jawa Timur). Hari sudah masuk dini hari, namun Rawa Malang seolah tidak kehabisan nafasnya. Transaksi nafsu birahi terus berlangsung sepanjang waktu. Entah sampai kapan, pemerintah daerah Jakarta hal itu dibiarkan telanjang. (el)